Archive for Tips-Tips Pernikahan

Tempat Pre-wedding Di Yogyakarta

Yogyakarta, terkenal sebagai tempat yang Aman, nyaman dan sejuk sesuai dengan slogannya ‘Yogyakarta berhati Nyaman’.  Banyak teman – teman dari luar kota yogyakarta yang ingin bermukim di kota ini karena keindahan alammya dan belum terpolusi parah seperti kota besar lainnya.

Saya tidak akan berpanjang lebar mendiskripsikan kota tempat lahir saya ini. Sebagai seorang wedding planner – wedding organizer, saya cuma mau sekedar sumbang saran/ pendapat mengenai tempat-tempat menarik yang dapat di gunakan sebagai tempat prewed/ pra-wedding di Yogyakarta.

Kalau Sobat suatu hari mau melaksanakan Outdoor Prawedding di Yogyakarta, tidak ada salahnya sobat mencari sumber referensi tempat Prewedding Yang murah di Yogyakarta bahkan kalau perlu Sobat dapat mencari tempat Prewedding yang gratis kalau fee Sobat tidak memungkinkan.

Ada beberapa tempat Outdoor yang Indah dan murah menurut saya di sekitar pinggiran dan Kota Yogyakarta yang dapat anda gunakan untuk foto prewedding/ prawedding. Diantaranya :

1. Pantai Parangtritis

Menurut Yogyes.com Pantai Parangtritis adalah tempat wisata terbaik untuk menikmati sunset sambil having fun menaklukkan gundukan pasir dengan ATV (All-terrain Vechile) ataupun menyusuri pantai dengan bendi dalam senja yang romantis. Pantai Parangtritis terletak 27 km selatan Kota Jogja dan mudah dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga pk 17.00 maupun kendaraan pribadi. Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai paling terkenal di Yogyakarta ini.

Nah di pantai ini anda dapat melakukan foto-foto Session untuk foto prawedding pernikahan anda. Sebaiknya anda melakukkannya di saat pagi hari sebelum panas matahari atau sebelum matahari terbenam sore hari dengan pose di belakang sunset. Heemmm… Pose yg romantis banget tuh nanti hasilnya.. jatuh cinta

Biaya masuk Ke lokasi ini cukup murah cuma Rp.3.500,- per orang.
Anda bisa narsis dan berfoto sepuasnya untuk pra wedding anda. berguling di lantai

2. Taman sari

Tamansari adalah taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya.  Letak Tamansari hanya sekitar 0,5 km sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Arsitek bangunan ini adalah bangsa Portugis, sehingga selintas seolah-olah bangunan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat, disamping makna-makna simbolik Jawa yang tetap dipertahankan.

Tamansari adalah sebuah tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi untuk tempat foto prewedding di yogyakarta karena bangunannya sendiri yang relatif utuh dan terawat serta lingkungannya yang sangat mendukung keberadaannya sebagai obyek foto pemotretan prewedding.

 

3. Malioboro

Jantung kota yogyakarta yakni malioboro sampai keraton yogyakarta dapat di jadikan ide sebagai tempat prawedding foto pernikahan. Anda dapat berfoto-foto untuk prawedding pernikahan anda di benteng vanderburgh, keraton yogyakarta atau sepanjang jalan malioboro ( tentu berfotonya ketika dalam keadaan sepi ). babak belur

Sebetulnya masih banyak sekali tempat yang cocok untuk dijadikan outdoor foto prawedding di Kota yogyakarta, bahkan kalau Sobat ‘pintar’ mencari tempat, pekarangan rumah Sobat-pun bisa dijadikan tempat outdor. salut

Oke.. Mungkin sobat-sobat blogger manten.wordpress ada masukan tempat yang cocok buat prewedding di yogyakarta ? Ketik koment di bawah untuk sharing. masukan anda kami harapkan.. hehe.. mengedipkan mata

Iklan

Comments (5) »

Nikah bukan untuk unjuk prestasi

Seorang muslimah dengan berkaca-kaca bercerita kepada saya bahwa ia ingin segera menikah. Masalah itu begitu berat membebani pikirannya bahkan mempengaruhi ibadahnya. Ia menjadi tidak tenang, shalat tidak khusyu’, juga sulit tidur. Kondisi fisiknya tentu jadi ikut terpengaruh.

Saya sedih mendengar curhatnya. Saya juga mencoba memahami perasaannya. Tapi wajarkah jika hal ini mengacaukan segalanya?

Ketika kuliah saya berharap bisa menikah maksimal usia 25 tahun. Namun Allah swt baru memberikan jodoh saat usia saya 27 tahun. Meski ‘hanya’ 2 tahun menanti, masa itu nyatanya tidaklah dapat dikatakan sebentar untuk menguji kesabaran jika tanpa ketegaran, rasa percaya diri, bebas dari prasangka dan perasaan tertekan. Satu hal yang membuat saya selalu merasa bersyukur saat itu adalah, Allah menolong saya tetap memiliki obsesi dan berkarya.

Seiring waktu, saya makin meyakini Allah bisa menjodohkan hamba-Nya kapan saja. Tapi, seringkali Dia mempunyai rencana lain yang mesti kita ambil hikmahnya sebanyak-banyaknya. Saya menyadari menikah bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bahagia mungkin benar, karena ia adalah anugrah istimewa. Tapi merasa bangga dan lebih baik dibanding orang lain, jelas tidak tepat. Apalagi dianggap segala-galanya.

Saya gemas mendengar seorang ummahat berujar kepada muslimah yang usianya jauh lebih tua namun belum berkeluarga, ”Wah, kalau gitu saya dong yang harusnya dipanggil ‘Mbak’. Anak saya kan sudah tiga.” Saya saja tidak nyaman dengan ucapannya, apalagi yang bersangkutan? Saya tidak tahu, apakah ia sudah kehilangan kepekaan? Atau, memang begitu sifat manusia yang kerap di ‘uji’ dengan berbagai kemudahan dari Allah?

Seandainya tidak terlambat menemukan ungkapan indah dalam surat Al-Kahfi ayat 46: ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Tentu saat itu saya akan menyadarkannya untuk bersikap lebih dewasa.

Manusia boleh berharap banyak tapi tidak selalu bisa memilih. Seandainya bisa pasti ia akan memilih yang ‘enak-enak’ berdasarkan nafsunya. Inilah bagian dari mengimani takdir. Dalam masalah jodoh, perspektif iman harus senantiasa dikedepankan. Banyaknya muslimah yang belum menikah pada usia matang harus disikapi secara arif. Selain harus dicari solusinya, muslimah sebaiknya melakukan pembekalan diri. Semuanya tergantung kepadanya, apakah ia akan memandang sebagai ujian ataukah kelemahan? Jika ujian, maka mencari hikmah sebanyak-banyaknya akan lebih berkesan dan membahagiakan daripada mencemaskannya. Jika dianggap kelemahan, tidak akan ada yang didapat selain perasaan tertekan.

Sudah selayaknya pula seorang muslimah memandang makna pernikahan dari berbagai sisi. Saya mendengar sekarang ini banyak mahasiswi muslimah tingkat I yang minta dicarikan pasangan oleh ‘pembina’nya, karena saking seringnya ia mendengar keindahan pernikahan digelar lewat berbagai seminar di kampus.

Bukan melarang untuk memikirkan dunia pernikahan pada usia relatif muda, tetapi yang jadi masalah adalah ketika harapan itu tidak segera terwujud. Kondisi ini jika tidak diimbangi kematangan jiwa dapat melemahkan semangat beraktivitas dan beribadah.

Agaknya, lebih positif jika muslimah membekali diri dengan cara menggali potensi diri dan prestasi, agar ia memiliki kematangan berpikir dan bisa menghargai diri sendiri, daripada hanya membayangkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu kapan dapat terwujud.

Menikah adalah sunah Rasul dan ibadah, ia pun merupakan ladang jihad muslimah. Saya yakin prestasi dan kualitas seorang muslimah sebelum menikah berbanding lurus dengan kualitasnya sesudah menikah. Artinya, kualitas seseorang setelah berumah tangga baik secara ruhiyah, fikriyah maupun amaliah sangat dipengaruhi bagaimana sosoknya sebelum menikah. Fenomena futur setelah menikah sering terjadi, karena kurangnya pemahaman dan wawasan tentang pernikahan sejak masih lajang. Karena pernikahan dianggap presatsi tertinggi yang bisa diraih.

Jika Allah memang belum mengabulkan apa yang kita harapkan, hiburlah diri dengan prasangka tinggi bahwa semakin Allah menunda insya Allah semakin baik kualitas yang akan Allah berikan suatu saat nanti karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya. Bagi yang sudah berkeluarga, selayaknya mensyukuri pernikahan dengan mengemban amanah sebaik-baiknya. Kalaupun belum mampu memberikan solusi, menjaga perasaan dan memiliki kepekaan kepada sesama adalah hal terbaik dalam ikatan ukhuwah kita.

 

Sumber

Comments (2) »

Antara cinta dan nafsu

Banyak muda-mudi jaman sekarang yang asyik masyuk terseret dalam pergaulan bebas. Pacaran seolah menjadi budaya. Pacaran menjadi nuansa bagi mereka untuk menuangkan rasa cinta pada sang kekasih. Rasa rindu ingin bertemu selalu menghantui mereka, para remaja yang sedang dimabuk cinta. Malangnya, ajang bercengkerama dua anak manusia berlainan jenis (bukan muhrim) ini lebih digemari dari pada membaca buku-buku motivasi atau kegiatan positif lainnya. Lebih malang lagi, tontonan sinetron-sinetron di televisi lebih memperparah lagi keadaan ini.

Tak dapat dipungkiri lagi, di masa sekarang, ada keprihatinan mendalam di balik fenomena itu. Dengan “mengatasnamakan cinta”, muda-mudi itu banyak yang lupa akan batasan-batasan yang digariskan agama. Melalui ajang yang disebut pacaran itu, terjadilah sebuah interaksi intensif dari perasaan saling suka, sering bertemu, dan seterusnya yang berujung pada terjadinya berbagai kontak fisik dalam kesempatan yang sepi berdua.  Tak jarang mereka sampai terjerumus ke jurang perzinaan, karena tak bisa mengendalikan diri. Akhirnya, hubungan yang awalnya istimewa bagi mereka, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan hancurnya masa depan bagi pelakunya. Sekali lagi, sebelumnya mereka melakukannya dengan “mengatas namakan cinta”.

Ada kisah nyata seorang wanita yang dulu jadi teman sekelas semasa SD. Dia adalah gadis yang manis menurut penilaian umum. Walau sedikit centil, ia banyak disukai teman-temannya. Sejak SD ia sudah telibat hubungan asmara dengan kakak kelas yang juga masih tetangga saya. Walau itu mungkin cinta monyet, namun kisah itu terus berlanjut hingga SMA. Malangnya, ketika masih kelas 1 SMA, si gadis ternyata telah berbadan dua sehingga mau tidak mau harus kawin sangat muda. Tak berapa lama, keluarlah anaknya dari rahimnya sehingga dapat dikata ABG (Anak Baru Gede) tiba-tiba mengeluarkan anak yang bisa “gede”. Setelah semua itu terjadi, hilanglah masa-masa indah si gadis dalam berproses menjadi manusia dewasa. Dia harus menjadi sosok ibu di saat jiwanya masih pancaroba, sementara gadis-gadis lain sedang menikmati kebebasan mencari jati diri. Dia kini kelihatan sudah tua dengan badan gemuknya layaknya ibu-ibu kelahiran era 70an. Kecantikannya hanya terlihat sekejap mata setelah bencana itu tak dapat dihindarinya. Ia telah kehilangan masa mudanya… Lalu, siapa yang salah?

Begitu naifkah, kata cinta yang harusnya dijaga kesuciannya, menjadi ternoda. Lalu, benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase? Jadi, ketika sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan, sebenarnya cinta ataukah nafsu mereka yang “berbicara”? Apakah emosi ataukah akal sehat mereka yang lebih dominan?

Jika ada seorang gadis yang berkata pada kekasihnya, “Kuserahkan segala milikku untukmu sebagi bukti cintaku padamu…” Dia menganggap itu sebagai sebuah pengorbanan karena cinta. Tapi begitukah pengorbanan untuk cinta? Ataukah itu untuk nafsu?
Ada seorang pemuda menanyakan pada pacarnya, “Bila kau benar cinta padaku, apa buktinya?” Atau dalam kesempatan lain, “Sebagai bukti cinta, maukah kau kucium, kupeluk… (dan seterusnya).” Atau dalam kasus lain, jika yang minta ini itu adalah sang gadis, dan ketika si pemuda menolaknya lantas dibilang pengecut. Apakah harus begitu membuktikan cinta?

Begitu mudahkah mengatas namakan “cinta” untuk suatu perbuatan dosa. Apakah itu benar cinta, atau itukah yang dinamakan nafsu? Yah, sebagai makhluk jenius yang dikaruniai akal budi yang sempurna, kita sebagai manusia pasti tahu perbedan keduanya, antara nafsu dan cinta. Dan sebagai generasi muda yang terpelajar, sudah sepantasnyalah kita tidak mencampuradukkan kedua hal itu untuk melegalkan hasrat (baca: hawa nafsu) kita.

Sekarang adalah era informasi yang serba canggih, bukan era manusia gua ratusan abad yang lalu. Manusia semakin cerdas dan punya peradaban tinggi. Jadi, harus tahu apa itu arti cinta yang sesungguhnya, dan jangan menodai makna cinta dengan pelampiasan hasrat nafsu birahi dengan mengatasnamakan cinta.

Begitu memprihatinkan pergaulan bebas muda-mudi di jaman ini, yang melegalkan perbuatan maksiat sebagai sebuah kebiasaan yang wajar. Hal itu bukan tanpa bukti. Ada wanita yang berkisah langsung dan katanya ingin bertaubat. Ada juga laki-laki yang berkisah dengan perasaan bangga tanpa ada niat memperbaiki diri sedikitpun. Ada juga cerita dari teman yang sering dijadikan curhat teman-temannya. Pendek kata, kita harus mengurut dada mengetahui realitas kelabu ini. Mereka ada di tengah-tengah kita. Itu terjadi di tengah-tengah kita.

Belum lagi banyaknya kasus-kasus pergaulan intim muda-mudi di luar nikah yang menghebohkan, direkam layaknya film dokumenter, namun akhirnya aib itu tersebar. Dan bagi si pelaku, pasti malu yang tak terkira harus mereka tanggung. Juga bagi keluarganya, itu semua menjadi aib yang memalukan, menghancurkan martabat keluarga, dan meluluhlantakkan segala kebanggaan. Ironisnya, pelakunya kebanyakan adalah sepasang kekasih yang masih pelajar atau mahasiswa. Lebih ironis lagi, mereka melakukannya atas nama cinta.

Pertanyaannya: apakah semua itu akan dibiarkan saja? Atau biarlah jadi bahan pemberitaan belaka?

Nama cinta bukanlah untuk sesuatu yang nista. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya. Jika kita mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya, bukan menodainya. Cinta selalunya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang “pecinta sejati”. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta.

Pasangan legenda Rama–Shinta, Romeo–Juliet, Kais–Laila, menjadi kisah sepanjang masa karena cinta mereka. Tidak ada kisah melegenda tentang nafsu yang tak terkendali dalam hubungan dua insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan. Adanya hanyalah skandal, perselingkuhan, perzinaan, dan nama lain sejenis yang amoral.

Jadi, jangan katakan ‘cinta’ jika kita tidak bisa memaknainya dengan makna yang sebenarnya. Jangan samakan cinta dengan nafsu hanya karena kita kurang kendali diri. Jangan mengkambinghitamkan cinta sebagai sarana pelampiasan nafsu. Dan yang lebih penting lagi, pergaulan bebas tak akan terjadi bila muda-mudi kita bisa memaknai cinta dengan sebenarnya dan memegang teguh ajaran agama dengan istiqomah (konsisten) sampai tiba masanya gerbang pernikahan terbuka.
Bagaimana menurut pendapat Anda?

 

Diambil dari blog andriewongso.com

Comments (13) »

Belajar dari Kegagalan Pernikahan Artis

Hampir setiap bulan kita disuguhi berita pernikahan artis. Berita-berita tersebut meliputi rencana pernikahan, pesta pernikahan, kehidupan rumah tangga, hingga perceraian.

Tidak sedikit artis yang pernikahannya megah bak pesta dansa pangeran dalam kisah Cinderella hanya berakhir di pengadilan agama.

Sering pula kita saksikan pasangan artis yang dulunya terlihat mesra di televisi, sekarang saling berkomentar sinis.

Hikmah untuk Kita
Berita keretakan rumah tangga artis dan kegagalan pernikahan mereka menarik perhatian sebagian orang. Terlebih acara gosip televisi menayangkan beritanya setiap hari. Selain menjadikan gosip sebagai hiburan, ada hikmah yang dapat kita petik dari kegagagalan pernikahan artis.

1.  Cantik dan Tampan Bukan Jaminan
Artis-artis umumnya dianugerahi wajah dan fisik yang menawan, sedap dipandang. Pasangan artis kerap terlihat sebagai pangeran dan putri dalam dongeng, serasi sekali.

Namun, kecantikan dan ketampanan tersebut bukan jaminan untuk kebahagiaan pernikahan mereka. Sering kita dengar artis yang berselingkuh dengan lelaki atau wanita lain. Padahal, kurang apa pasangan mereka?

Maka dari itu bagi Anda yang mengutamakan kecantikan dan ketampanan sebagai kriteria utama mencari pasangan, sebaiknya dipikirkan ulang.
2.  Popularitas Dapat Membuat Lupa Diri
Artis populer. Wajahnya ada di mana-mana. Di media cetak, elektronik, iklan, juga dunia maya. Kita yang awam sering menilai kepopuleran artis dari seringnya ia muncul di media massa.

Namun, popularitas tersebut dapat membuat artis bagai kacang lupa kulitnya. Beberapa artis dikabarkan bertikai dengan keluarga atau pasangannya akibat lupa diri dengan kepopulerannya.

Sebuah pertanyaan untuk Anda yang ingin populer, apakah Anda tetap akan ingat sekitar atau tempat asal ketika sudah populer?
3.  Harta Melimpah Gaya Hidup Berubah
Artis yang populer mendapat banyak tawaran kerja dari berbagai pihak. Semakin populer artis, semakin melimpah pula hartanya.

Harta yang melimpah dapat mengubah gaya hidup seseorang pula. Misalnya, karena ia artis yang sedang top, tawaran pesta datang setiap pekan.

Untuk persiapan pesta, sang artis merasa harus tampil maksimal dengan pakaian dan penampilan wah. Beberapa hari sebelum pesta, ia sibuk di salon dan butik. Padahal, sebelumnya ia tak pernah serepot itu bila mendapat undangan pesta.

Waktu untuk pasangan dan keluarga pun harus berkurang akibat pesta dan segala persiapannya.
4.  Tenar Namun Rawan Godaan
Ketenaran juga mengundang godaan tersendiri bagi para artis, terutama dari para penggemar. Tidak sedikit penggemar yang rela memberikan apa saja demi bersama sang artis.

Jika sudah begitu, peluang selingkuh dan lainnya terbuka lebar. Jika tidak kuat iman dan tidak ingat dengan keluarga, perbuatan-perbuatan yang melanggar norma kesopanan dapat saja dilakukan.

5. Jangan Melupakan Keluarga
Berbagai tawaran kerja dan bisnis cenderung mengurangi waktu kebersamaan sang artis dengan keluarganya. Dari sisi materi, bisa saja pasangan dan keluarga mendapatkan lebih dari apa yang mereka butuhkan. Namun, pasangan dan kelaurga tidak hanya membutuhkan materi. Mereka membutuhkan perhatian yang tidak dapat dinilai dengan uang.

Jika artis yang sedang naik daun tidak membatasi diri, rumah akan berubah menjadi hotel, tempat persinggahan sementara.

Sesempurna apa pun seorang artis, ia tetaplah manusia biasa. Mereka tidak luput dari kesalahan. Kurang tepat menjadikan kehidupan pernikahan artis sebagai rujukan utama. Bahkan, mereka adalah orang-orang yang sangat perlu diingatkan berulang-ulang sebab rentan gosip dan kabar tak sedap lainnya.

Kita juga tidak perlu terlalu ingin tahu kehidupan rumah tangga artis karena mereka juga punya wilayah pribadi yang kurang pantas untuk diketahui.

 

Leave a comment »

Nikah, nikah dan menikah..

Gimana sih sejarahnya sampai seseorang harus menikah ?

Nikah, Nikah dan Menikah.. Agama-agama mengakui bahawa pernikahan pertama di kalangan manusia berlaku antara Nabi Adam a.s. bersama Hawa. Perkawinan ini berlaku dengan suatu cara perhubungan yang dibenarkan oleh Allah s.w.t kepada mereka berdua. Ini merupakan suatu sistem perkawinan yang disyariatkan bagi umat manusia untuk memerintah Bumi dan mendudukinya buat sementara waktu. Selain al-Quran dan hadith, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru turut menceritakan kejadian Adam dan Hawa sebagai pasangan pertama. Di dalam Perjanjian Lama atau Taurat, telah diselitkan beberapa ayat, antaranya yang bermaksud, “Tuhan telah berkata tidak baik Adam berkeseorangan sahaja, maka Aku jadikan seorang penolong sepertinya”.

Berkenaan dengan perkahwinan anak-anak Adam sendiri tidaklah dapat diketahui bagaimanakah sistemnya yang sebenarnya. Di dalam Tafsir Ibn Kathir, apa yang diriwayatkan oleh Ibn Jarir daripada Ibn Masi’ud dari beberapa orang sahabat yang lain,bahwa mereka berkata yang bermaksud, “Sesungguhnya tidak diperanakkan bagi Adam anak lelaki melainkan diperanakkan beserta anak perempuan, kemudian anak lelaki kandungan ini dikahwinkan dengan anak perempuan dari kandungan lain, dan anak perempuan bagi kandungan ini dikahwinkan dengan anak lelaki dari kandungan yang lain itu.” Pada masa itu, perkahwinan berlainan kandungan boleh dijadikan seperti perkawinan berlainan keturunan.

Lalu apa saja jenis pernikahan ?

Jenis-jenis pernikahan

* Poligami adalah pernikahan lelaki dengan lebih satu wanita. IPoligami ini sudah di anut oleh hampir kesemua bangsa di dunia ini. Mereka mengamalkan poligami tanpa hak dan batas. Contohnya ada agama di negara China yang membolehkan perkahwinan sehingga 130 orang isteri. Pada syariat Yahudi, poligami dibenarkan tanpa batas dan menurut Islam, poligami hanya dibenarkan sehingga empat orang isteri dengan syarat-syarat yang tertentu.

* Poliandri merupakah pernikahan yang berlaku antara seorang perempuan dengan beberapa orang lelaki (konsep umum dari poligami). pernikahan ini sangat jarang berlaku kecuali di Tibet, orang-orang bukit di India dan masyarakat jahiliah Arab. Contohnya masyarakat Juansuwaris apabila saudara lelaki yang tua mengahwini seorang wanita, wanita itu menjadi isteri untuk semua saudara-saudaranya. Amalan ini merujuk kepada kitab Mahabhrata.

* Monogami merupakan cara perkahwinan tunggal iaitu perkahwinan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan sahaja. Sesetengah agama seperti Kristian mengamalkan perkahwinan jenis ini kerana menganggap perkahwinan antara seorang lelaki dan seorang perempuan adalah untuk sepanjang zaman. Oleh karena itulah penceraian sangat di larang Tuhan.

Lalu, Mengapa Sih harus Menikah ?

Selain ‘Menikah’ adalah cara yang halal untuk menyalurkan nafsu seks, menikah juga menghindarkan dari per-zinahan. Untuk memperoleh ketenangan hidup, kasih sayang dan ketenteraman, Memelihara kesucian diri, Melaksanakan tuntutan syariat, Menjaga keturunan dan Dapat mengeratkan silaturahim

Makanya Ayo.. Nikah, Nikah dan menikah 😀

Leave a comment »

Mendobrak Kendala Pernikahan..

Pernikahan menjadi dambaan banyak orang, terutama para pemuda dan gadis-gadis.

Pernikahan menjadi harapan ketika fungsi-fungsi hormonal tubuh sudah matang. Pernikahan menjadi mimpi indah ketika jiwa tidak lagi bisa dipuaskan dengan menjadi anak ideal. Bahkan, pernikahan menjadi jawaban kongkret atas berbagai “tekanan” sosial yang terus menghantui wanita-wanita Timur.

Fenomena telat menikah bukan monopoli gadis-gadis. Para pemuda pun merasakan tekanan hebat. Semakin bertambah umur, semakin sering berjumpa dengan kenalan, lalu mereka bertanya, “Kapan nikah?” Kenyataan seperti itu adalah tekanan yang bukan main beratnya.

Kelambatan menikah bagi para pemuda dilatar-belakangi banyak faktor, antara lain, belum siap memberi nafkah, belum menemukan calon yang tepat, menjadi tumpuan keluarga, tidak memiliki “modal” cukup untuk melangsungkan acara resepsi sesuai standar modern, kekhawatiran berlebihan melihat beban kehidupan rumah-tangga, terlilit beban utang, mengidap penyakit-penyakit serius dan aneka alasan lain. Masalah ini tidak cukup selesai dengan ucapan, “Wahai ikhwan, rezeki itu dari Allah. Tidak usah takut menikah hanya gara-gara soal rezeki.”

Telat menikah bukan monopoli gadis-gadis biasa. Baca entri selengkapnya »

Comments (1) »

Muslimah Antara Siap Dan Ingin Menikah..

http://mudahmenikah.files.wordpress.com/2009/06/mudahmenikah046.jpgPernikahan Idham dan Rani berlangsung lancar. Kawan-kawan kuliah keduanya banyak yang datang, walaupun resepsi itu dilakukan jauh dari kota dimana mereka berdua menuntut ilmu.

Di sudut ruangan, tampak sekelompok akhwat sedang menikmati hidangan. Mereka sedang menggoda Rifa, sahabat Rani, kapan Rifa akan segera menyusul Rani. Ditanya begitu, Rifa hanya tersenyum, dan menjawab, “Jika saatnya tiba.”

Namun tak lama setelah kejadian itu, timbul perasaan-perasaan ingin mengitu jejak Rani di hati Rifa. Meski Rifa sendiri masih galau, apakah dirinya benar-benar sudah siap atau hanya ingin menikah????

Sahabat Muslimah…Banyak akhwat yang mengalami peristiwa yang dialami Rifa dalam ilustrasi diatas. Beberapa diantaranya rata-rata masih tercatat sebagai mahasiswi. Memang, menikah dini di kalangan mahasiswa akhir-akhir ini seolah menjadi trend yang sedang berkembang.

Sahabat Muslimah…Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seorang akhwat ingin segera mengakhiri masa lajangnya, antara lain:

1. Karena faktor usia

Banyak akhwat yang merasa gelisah karena usia yang sudah cukup untuk menikah, namun belum juga ditunjukkan siapa pendampingnya.

2. Melihat teman yang sudah menikah

Adakalanya, jika teman kita sudah menikah, mereka bercerita kepada kita, betapa indah dan menyenangkannya hidup berumah tangga, sehinga membuat kita ingin segera merasakannya.

3. Dipanas-panasi

Tak dipungkiri, di sebagian kalangan akhwat, salah satu topik favorit yang sering dibicarakan adalah seputar ikhwan dan nikah. Lambat laun, karena seringnya membicarakan hal itu, membuat hati sebagian akhwat kebat-kebit.

Apalagi jika sudah ditambah bumbu-bumbu tertentu. Itulah sebabnya mengapa kita dilarang untuk membicarakan hal-hal yang tidak perlu, karena bisa saja membuat hati kita kotor.

Sebagian lagi beralasan, mereka ingin segera menikah untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Bukan alasan yang salah sebenarnya. Tapi acapkali, karena terburu-buru ingin menikah, banyak hal yang lupa dipersiapkan.

Sahabat muslimah… Baca entri selengkapnya »

Comments (1) »