Menikah Bagi saya adalah keajaiban..

http://santribadung.files.wordpress.com/2009/03/bunga.jpgSaya selalu mengatakan bahwa menikah adalah hal yang sangat kodrati.

Dalam bahasa saya, menikah tidak dapat dimatematiskan.

Jika suatu saat ada orang yang mengatakan, secara materi saya belum siap, saya akan selalu mengejar dengan pertanyaan yang lain, berapa standar kelayakan materi seseorang untuk menikah?

Tak ada. Sebenarnya tak ada. Jika kesiapan menikah diukur dengan materi, maka betapa ruginya orang-orang yang papa. Begitu juga dengan kesiapan-kesiapan lain yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Selalu tak bisa dimatematiskan. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa menikah adalah sesuatu yang sangat kodrati.

Bukan dalam arti saya menyalahkan teori-teori kesiapan menikah yang telah dibahas dan dirumuskan oleh para ustadz. Tentu saja semua itu perlu sebagai wacana memasuki sebuah dunia ajaib bernama keluarga itu.

Sebagai contoh saja, banyak pemuda berpenghasilan tinggi, namun belum juga merasa siap untuk menikah. Belum cukup, lah… itu alasan yang paling mudah dijumpai. Dengan gaji sekarang saja saya hanya bisa hidup pas-pasan. Bagaimana kalau ada anak dan istri? Oya, saya juga belum punya rumah….

O-o… Saudaraku, kalau kau menunggu gajimu cukup, maka kau tak akan pernah menikah. Bisa jadi besok Allah menghendaki gajimu naik tiga kali lipat. Tapi percayalah, pada saat yang bersamaan, tingkat kebutuhanmu juga akan naik… bahkan lebih tiga kali lipat. Saat seseorang tak memiliki banyak uang, ia tak berpikir pakaian berharga tertentu, televisi, laptop… atau mungkin hp merk mutakhir.

Saat tak memiliki banyak uang, makan mungkin cukup dengan menu sederhana yang mudah ditemui di warung-warung pinggir jalan. Tapi bisakah demikian saat Anda memiliki uang? Tidak akan. Selalu saja ada keinginan yang bertambah, lajunya lebih kencang dari pertambahan kemampuan materi. Artinya, manusia tidak akan ada yang tercukupi materinya.

Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah dan terlambat sampai kepada setiap orang. Tak akan bisa dimajukan ataupun ditahan. Selalu tepat sesuai dengan apa yang telah tersurat pada awal penciptaan anak Adam.

Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki, itu yang pernah saya baca di sebuah buku. Ada pula sabda Rasulullah, Menikahlah maka kau akan menjadi kaya.Mungkin secara logika akan sangat sulit dibuktikan statemen-statemen tersebut. Taruhlah, pertanyaan paling rewel dari makhluk bernama manusia, Bagaimana mungkin saya akan menjadi kaya sedangkan saya harus menanggung biaya hidup istri dan anak? Dalam beberapa hal yang berkaitan dengan interaksi sosial juga tidak bisa lagi saya sikapi dengan simpel. Contoh saja, kalau ada tetangga atau teman yang hajatan, menikah dan sebagainya, saya tentu saja tidak bisa lagi menutup mata dan menyikapinya dengan konsep-konsep idealis. Saya harus kompromi dengan tradisi; hadir, nyumbang… yang ini berarti menambah besar pos pengeluaran. Semua itu tak perlu menjadi beban saya pada saat saya belum berkeluarga.

Saat saya dihadapkan pertanyaan menikah pertama kali dalam hidup saya, saya sempat maju mundur dan gamang dengan wacana-wacana semacam ini. Lama sekali saya menemukan keyakinan -belum jawaban, apalagi bukti- bahwa seorang saya hanyalah menjadi perantara Allah memberi rezeki kepada makhluk-Nya yang ditakdirkan menjadi istri atau anak-anak saya.

Harusnya memang demikian. Itulah keajaiban yang kesekian dari sebuah pernikahan. Saya sendiri menikah pada tahun 1999, saat umur saya dua puluh tahun. Saat itu saya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan bakery tradisional. Tentu saja, saya sudah menulis saat itu kendati interval pemuatan di majalah sangat longgar. Kadang-kadang sebulan muncul satu tulisan, itu pun kadang dua bulan baru honornya dikirim.

Dengarkan…! Dengarkan baik-baik bagian cerita saya ini.

Sebulan setelah saya menikah, tiga cerpen saya sekaligus dimuat di tiga media yang berbeda. Beberapa bulan berikutnya hampir selalu demikian, cerpen-cerpen saya semakin sering menghiasi media massa. Interval pemuatan cerpen tersebut semakin merapat. Saat anak saya lahir, pada pekan yang sama, ada pemberitahuan dari sebuah majalah remaja bahwa mulai bulan tersebut, naskah fiksi saya dimuat secara berseri. Padahal, media tersebut terbit dua kali dalam sebulan. Ini berarti, dalam sebulan sudah jelas ada dua cerpen yang terbit dan itu berarti dua kali saya menerima honor. Ini baru serialnya. Belum dengan cerpen-cerpen yang juga secara rutin saya kirim di luar serial.

Tunggu… semua itu belum berhenti. Saat anak saya semakin besar dan semakin banyak pernak-pernik yang harus saya penuhi untuknya, lagi-lagi ada keajaiban itu. Satu per satu buku saya diterbitkan. Royalti pun mulai saya terima dalam jumlah yang… hoh-hah…! Subhanallah…!

Entah, keajaiban apa lagi yang akan saya temui kemudian. Yang jelas, saat ini saya harus tetap berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya hanyalah perantara rezeki bagi anak dan istri saya… juga mungkin orang lain. Dengan begitu, mudah-mudahan saya bisa melepaskan hak-hak tersebut yang melekat pada uang gaji ataupun royalti yang saya terima.

Ya Allah… mampukan saya ?😀

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    gia said,

    Ya Allah cerita anda sngat inspiratif…
    Saya menjadi mengembalikan cerita itu kpd dr sy sndiri…
    Saya belum mw menikah karna mengingat calon suami saya yg saya lihat sepertinya belum mencukupi bwt membiayai smw biaya hidup saya apalagi saya sebentar Lª9ΐ juga kuliah s2…
    Sangat sulit bagi saya mengingat calon saya juga punya tanggungan adiknya yg masih kuliah s1…
    Belum Lª9ΐ dy belum memiliki rumah…
    Sehingga smp saat ini saya masih kurang yakin…

    Tapi saat saya baca cerita anda…sepertinya saya kurang mengikutkan Allah dalam memikirkan masa depan saya…
    Terima kasih Pak u/ceritanya…
    Terima kasih u/inspirasinya…

  2. 2

    dira said,

    Subhanallah..
    Beberapa bulan ini..saya jg brpikiran sama sperti problem di atas. Dmana saya merasa blum siap untuk menikah. Dipandang dr segi usia,sekarang 23,mnurut saya memang sudah usia yang pas bagi gdis untuk segera menikah.. Tp dr segi sifat,bs dbilang saya msih kkanak2an,sering saya brfikir apa sudah bisa dengan sifat seperti ini saya mengurus suami bahkan anak,lha wong ngurus diri sndiri aj blum ahli. Tp kmbali saya befikir,sejak msih kuliah smpe skrang aja g da prubahan yg signifikan dr diri saya. Klo terus nunggu siap dg mgharap prubahan sikap,jgn2 saya g akan prnah siap.. Akhirny saya ptuskan,semua ini harus dhadapi. Mnusia dciptakan brpasang2an untuk saling mlengkapi,insya Allah setelah menikah dan menjlani khidupan setelahny,dengan dkungan suami,saya yakin akan enjadi pribadi yang lebih baik.
    Dri segi ekonomi c,sy spendapat dg anda. Ketika saya sudah yakin akan menikah,suatu mu’jizat dr Allah,calon suami saya diterima d perusahaan yg lbih baik.
    Dari cerita bpak dan penglaman sya,memang ketika niat sudah baik dan mantab,jlan akan selalu disediakan oleh Allah ya Rahman ya Rahiim..

  3. 3

    Maulida Balgis Arbinesya said,

    Wah Pak..
    Hebat..
    saya suka membaca tulisantulisan bapaK
    Boleh saya tau bukubuku apa yang sudah di terbitkan..
    Indah sekali bisa menulis..
    Saya ingin sekali emnuangkan pikiran-pikiran saya dalam menulis

  4. 4

    BAYSIFA said,

    Bener banget pak,saya setuju dengan apa yg bapak katakan.setelah menikah nanti,intinya saya harus yakin bahwa Allah akan memberikan rizki yg lebih.

    terima kasih bnyak ats ilmunya pak,sangat bermanfaat khususnya bagi saya.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: