Tidak menikah dengan foto, please !

http://hasanjunaidi.files.wordpress.com/2007/12/untitled.jpgManten.Wordpress.com – Judul diatas barangkali agak membingungkan. Tidak mengapa, karena bahasan kita kali ini adalah berkenaan dengan masalah ta’aruf lewat email atau media internet.

Memang , sedianya judulnya adalah “Tidak ta’aruf dengan foto, please…”, tapi karena bahasan kita juga mengarah kepada pernikahan, maka jadilah judulnya seperti tersebut di atas.

Selanjutnya, setelah kita simak keadaan yang banyak berlaku saat ini, khususnya dalam hal usaha menjalin hubungan suci ke arah pernikahan, sedikit gambaran berikut ini mudah2-an dapat membantu kita untuk mewujudkan suatu usaha dengan arah yang jelas dan dengan yakin yang benar. Keduanya kita pentingkan agar dapat menjadi dasar atau fondasi yang kuat bagi bangunan rumah tangga yang akan kita bina di atasnya.

Barangkali hari ini bukan lagi suatu rahasia, dimana orang2 yang belum saling kenal dan berniat untuk mendapatkan pasangannya saling bertukar foto lewat email dan internet. Adakalanya image2 yang ditampilkan sedemikian rupa sehingga sang pengirim ter-kagum2 dengan penampilan baru pada fotonya sendiri yang ‘sedikit’ beda dengan keadaan sebenarnya (yang dia ketahui). Ini memang suatu fenomena yang tak terhindarkan sebagai salah satu dampak dari kemajuan teknologi sekaligus sebagai suatu bentuk kemunduran dalam hal keyakinan kepada Allah (swt).

Foto, seringkali tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Tidak itu saja, bahkan foto sama sekali tidak dapat mewakili gerak hati dan degup jantung orang yang bersangkutan; juga tidak dapat mewakili suasana dan keadaan yang timbul jika dua orang yang berlawanan jenis bertemu.

Foto, sebaik dan sebagus apapun tidak akan dapat memberi pengaruh kepada getaran2 di hati, di jantung dan di kalbu sebaik dan sedahsyat apabila seseorang melihatnya dalam keadaan aslinya.

Sebagaiman kita sadari, perasaan malu dan perasaan2 lain yang mengiringi kesadaran seseorang saat bertemu dengan lawan jenisnya sangat mempengaruhi gerak-gerik dan tingkah laku yang tertentu. Kejadian tersebut sangat unik dan khas; suatu hal yang tidak mungkin dapat direkam oleh video recorder apalagi oleh kamera biasa. Oleh karena itu, orang2 yang memohon ta’aruf lewat foto, mereka akan mengambil kesimpulan tentang calon pasangannya yang boleh jadi salah atau bahkan sangat keliru. Dan pada kenyataannya betapa banyak orang yang tertipu oleh tampilan foto seseorang.

Jalan yang lebih baik daripada melihat foto seseorang adalah dengan menumpukan harapan kepada Allah (swt) lewat amal2 yang disyariatkan untuk itu. Kita lakukan sholat hajat dengan harapan yang bulat bahwa Allah (swt) akan mengabulkan hajat kita (untuk menikah) dan kita lakukan sholat istikhoroh dengan satu permintaan kepada-Nya agar pasangan kita kelak adalah pilihan terbaik Allah buat kita di sisi-Nya (bukan di sisi kita).

Bersamaan dengan sholat2 tersebut, kita berusaha membangun yakin yang sempurna kepada Allah (swt), termasuk di dalamnya adalah yakin kepada ketentuan2 dan janji2-Nya. Yakin bahwa Allah mendengar doa kita, yakin bahwa Dia akan memenuhi hajat kita, yakin bahwa Dia akan memberi kita pasangan yang sederajat dengan kita, yakin bahwa Dia yang lebih (maha) mengetahui apa saja yang terbaik buat kita dan yakin bahwa keputusan dan ketetapan Allah (swt) tidak pernah salah dan keliru.

Untuk itu kita lebih suka jika setiap calon pasutri (pasangan suami istri) tidak mendahului ta’aruf dengan foto. Lebih daripada itu, hendaknya setiap calon pasutri tidak memberi keputusan untuk segera menikah (dengan cara bergegas untuk ta’aruf), kecuali setelah yakinnya kepada ketentuan2 dan janji2 Allah (swt) menjadi baik atau minimal menjadi lebih baik.

Hal ini sangat penting, mengingat banyak orang yang menolak calon yang dipertemukannya dalam satu ta’aruf (dengan berjuta alasan yang nampaknya seperti masuk akal). Padahal, hakikat yang sebenarnya adalah bahwa dia menolak pemberian Allah (swt) (karena dia belum yakin kepada-Nya).

Sungguh, Allah (swt) maha pemberi. Dia memberi apa saja yang sangat diperlukan oleh makhluk2-Nya. Dan khusus kepada manusia, Dia tidak saja memberi makanan, pakaian, tempat tinggal dan kesenangan2 yang tertentu, akan tetapi Dia juga memberi petunjuk kepada siapa saja yang mau menerimanya. Jika Allah (swt) memberi, maka pemberiannya tidak akan mengurangi khasanah-Nya. Padahal jika pemberian-Nya disyukuri oleh hamba-Nya, Dia tidak memberinya menurut ‘deret tambah’ tetapi bahkan dengan ‘deret kali’.

Sadar atau tidak, adakalanya kita menolak petunjuk Allah (swt). Padahal jika kita menolak petunjuk-Nya, hal itu pasti tidak akan mengurangi kewibawaan-Nya, justru kita sendiri yang rugi. Dan jika kita menolak orang yang sudah siap untuk hidup bersama kita, maka kita tidak saja rugi karena tidak akan mendapat kebaikan2 dari Allah yang dimilikinya, tetapi kita juga rugi karena kita kehilangan kesempatan untuk menyempurnakan separuh agama untuk diri kita. Subhanallah.

Bagaimana pendapat anda ? 😀

Di tulis oleh : Subhan ibn Abdullah
Pattaya, 09/07/2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: